FokusBatam.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menggelar program Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2026 untuk memastikan ketersediaan uang kartal selama periode Ramadhan dan Idulfitri. Melalui program ini, BI Kepri menyiapkan kebutuhan uang kartal sebesar Rp2,9 triliun untuk tujuh kabupaten dankota di Kepri.
Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto mengatakan SERAMBI 2026 menjadi bagian dari strategi Bank Indonesia dalam menjaga kelancaran sistem pembayaran di tengah meningkatnya kebutuhan uang tunai masyarakat menjelang Lebaran.
“Permintaan uang kartal di Kepri cenderung meningkat signifikan saat Ramadhan dan Idulfitri. Melalui SERAMBI 2026, kami memastikan ketersediaan uang yang cukup, pecahan yang sesuai, dan kualitas uang yang layak edar,” ujar Rony, Sabtu (14/2/2026).
Selain pemenuhan kebutuhan uang, BI Kepri juga menyiapkan layanan penukaran uang sebesar Rp94,2 miliar, melonjak tajam dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
“Layanan penukaran akan dilakukan melalui kas keliling ke titik-titik strategis, kerja sama penukaran terpadu dengan perbankan, layanan di kantor bank, serta penukaran melalui stakeholder Utama,” tuturnya.
Program SERAMBI 2026 tidak hanya berfokus pada aspek distribusi uang, tetapi juga penguatan literasi publik melalui kampanye Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah. Kampanye ini mengusung tema “Rupiah Memberi Makna di Bulan Penuh Berkah”, yang menekankan peran Rupiah dalam mendukung aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat selama Ramadhan hingga Idulfitri.
BI Kepri juga mengimbau masyarakat untuk melakukan penukaran uang hanya di layanan resmi perbankan maupun fasilitas penukaran yang disediakan Bank Indonesia guna menghindari risiko peredaran uang palsu dan pungutan biaya tidak resmi. Jadwal dan lokasi layanan SERAMBI 2026 dapat diakses melalui kanal resmi BI.
Melalui SERAMBI 2026, Bank Indonesia menargetkan kelancaran distribusi uang tunai di daerah tetap terjaga, sekaligus mendukung stabilitas sistem pembayaran dan perputaran ekonomi daerah selama periode puncak konsumsi masyarakat. (redaksi)

