FokusBatam.com – Badan Pengusahaan (BP) Batam melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur biaya logistik sebagai langkah meningkatkan efisiensi rantai pasok dan memperkuat daya saing kawasan industri serta pelabuhan Batam.
Sebagai bagian dari evaluasi tersebut, implementasi penyesuaian tarif layanan peti kemas di Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar ditunda hingga 31 Agustus 2026. Bagi pengguna jasa yang telah membayar menggunakan tarif baru, BP Batam memastikan akan mengembalikan selisih pembayaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Keputusan tersebut diambil setelah BP Batam menggelar dialog bersama asosiasi pelaku usaha, operator terminal, perusahaan logistik, pengguna jasa, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengkaji dampak tarif terhadap keseluruhan biaya logistik.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan evaluasi dilakukan agar setiap kebijakan kepelabuhanan mampu mendukung efisiensi biaya sekaligus meningkatkan kualitas layanan.
“Evaluasi ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi pengguna jasa, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memperkuat daya saing Batam,” tegasnya.
Hasil pembahasan menunjukkan bahwa tarif pelayanan di Terminal Peti Kemas Batu Ampar hanya menyumbang sekitar 18 persen dari total biaya logistik rute Batam–Singapura. Sementara sebagian besar biaya logistik berasal dari komponen jasa feeder dan transshipment.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi BP Batam untuk melakukan kajian yang lebih komprehensif terhadap seluruh komponen biaya logistik, sehingga upaya peningkatan efisiensi tidak hanya berfokus pada tarif pelabuhan, tetapi juga pada rantai distribusi secara keseluruhan.
Di sisi lain, BP Batam menilai modernisasi Terminal Peti Kemas Batu Ampar telah memberikan dampak positif terhadap kinerja operasional. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, volume bongkar muat mencapai 222.131 TEUs atau meningkat 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produktivitas bongkar muat juga mencapai 40 box per jam seiring peningkatan fasilitas dan konektivitas pelayaran internasional.
Ke depan, BP Batam akan melanjutkan dialog dengan pelaku logistik untuk mengkaji keterkaitan antara standar pelayanan, produktivitas operasional, investasi infrastruktur, dan struktur biaya logistik sebagai landasan penyusunan kebijakan yang lebih efektif dan berorientasi pada daya saing investasi.
“Target kami kedepannya bisa menghadirkan pelayanan pelabuhan yang lebih modern dan meningkatkan kepercayaan investor. Karena itu, setiap kebijakan akan kami susun secara terbuka, berbasis data, dan melalui dialog bersama dunia usaha,” tutup Denny.

